Kamis, 06 Januari 2011

Sejarah Kaum KhawariJ


BAB I
PENDAHULUAN

Sejarah peradaban Islam berkembang dengan sangat pesat namun pada perkembangannya banyak pemikiran-pemikiran  yang muncul pada umat Islam pada saat itu sehingga menimbulkan perpecahan antara sesama muslim dan menyebabkan peperangan sesama kaum muslim hingga menelan ribuan korban di medan perang.
Disaat nabi Muhammad Saw telah tiada kepemimpinan di jabat oleh para Khalifau’rasyidin mulai Abu Bakar hingga Ali bin Abi Thalib, era kepemimpinan Ali pertama munculnya perpecahan umat Islam namun benih awal perpecahan sudah mulai muncul pada akhir pemerintahan Usman hingga akhirnya Usman di bunuh.
Pergolakan politik terus berlanjut sampai puncaknya saat perang Siffin berlangsung yang berakhir dengan adanya perdamaian (tahkim) yang menyebabkan golongan Ali keluar dari barisannya dan membuat barisannya sendiri mereka adalah kelompok yang tidak menyetujui adanya tahkim tersebut yang bernama khawarij. Sejarah menceritakan bahwa mereka terdiri dari orang-orang yang sangat keras dan brutal untuk tercapainya tujuan yang di inginkannya dan merubah semua kententuan yang sudah ada.
Bertitik tolak dari uraian diatas maka penulis tertarik untuk menguak kaum Kawarij secara mendalam yang akan di bahas pada bab II adapun yang akan di bahas yaitu mulai latar belakang munculnya Khawarij, perkembangannya Khawarij, aliran teologi dan politik Khawarij, dokrin yang sangat ekstrim Khawarij, hingga sebab putusnya dan bagaimana pengaruhnya terhadap masa kini.
   



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Latar Belakang Munculnya Kaum Khawarij
Pada taggal 17 Juni 656 M. Usman  Bin Affan terbunuh, sepeninggalnya pada tanggal 23 Juni 656 M Ali Bin Abi Thalib diangkat menjadi Khalifah, selama masa pemerintahannya  ia menghadapi berbagai pergolakan tindakan, masa yang sedikitpun dikatakan tidak stabil, setelah menduduki jabatan Ali memecat para gubernur pada masa Ustman, tidak lama setelah itu Ali menghadapi pemberontakan Thalalah, Zubair dan Aisyah alasannya Ali tidak menghukum pembunuh Ustman[1] berbagai kelompok bermunculan hingga menyebabkan perpecahan dan pertempuran umat Islam pada saat itu salah satu diantaranya ialah perang Jamal yang di menangkan fihak Ali.
Dan pada tahun 37 H/657 M pecahlah perang Siffin semula peperangan ini telah di menangkan oleh Ali[2] namun kelompok Muawiyah mengajak berdamai dengan cara mengikat al-Qur’an pada ujung  tombak tentaranya dengan demikian menuntut agar perselisiahan diselesaikan dengan cara berdamai[3]  yang disebut dengan tahkim (arbitrase) Ali tidak menerima untuk berdamai maka keluarlah sekelompok orang dari pasukannya yang menuntut agar ia menerima tahkim dengan terpaksa ia menerimanya.[4] Ironisnya sekelompok yang mendesak menerima tahkim menolak hasil tahkim tersebut, seusai perang Siffin tersebut Ali bersama pengikutnya pulang ke Irak dan muawiyah bersama pendukungnya kembali ke Syam. Penduduk Syam kembali dengan membawa kesepakatan bersama, lain halnya dengan penduduk Irak kembali ke negerinya dengan membawa perpecahan mereka saling baku hantam ketika Ali sampai ke Khuffah sebanyak 12.000 dari kelompoknya tidak ikut melainkan singgah di sebuah kampung Harura dan keluar dari barisan Ali  mereka membuat barisan sendiri dan mengangkat Abdulah Bin Warb Ar Ra’si sebagai pemimpinnya.[5] Mereka adalah kelompok-kelompok yang terkecoh oleh segala sesuatu yang tampak di depan mata mereka sebagai kebenaran mereka meneriakkan tidak ada hukum kecuali hukum Allah namun dengan kata-kata tersebut kebatilanlah yang di kehendaki.  
Khawarij berasal dari kata Kharja yang berarti keluar yaitu yang keluar dari barisan Ali karena tidak sepaham dengan persengketaannya dengan muawiyah disamping itu terdapat nama lain yang diberikan yaitu Haruriah yang berasal dari kata Harura sebuah desa dekat dengan desa Kufah di Irak didesa ini mereka menyusun kekuatan untuk mengadakan makar terhadap pemerintahan Ali sedangkan menurut kaum khawarij menyebut diri mereka dengan Syurah dari kata Yasyri yang berarti menjual penyebutan nama tersebut didasarkan pada surat al Baqarah ayat 207 [6]  
Kaum khawarij adalah mayoritas suku badui Arab pendukung Ali Bin Abi Thalib yang tidak puas terhadap sikap kepemimpinannya yang menerima tahkim sebagai jalan penyelesaian persengketaan Muawiyah bin Abu sufyan mengenai masalah khalifah, waktu mereka tersita digunakan untuk berjuang mempertahankan hidup dari pada menimba ilmu pengetahuan akibatnya ajaran Islam yang tertuang dalam al-Qur’an dan hadits di fahami secara dangkal dan sempit.[7]
Kelompok Bani Umayah yang terdiri dari penduduk Syam dan wilayah –wilayah Islam yang lain terutama Mesir mereka adalah kelompok yang berpendapat bahwa jabatan khalifah harus berada di tangan kaum Quraisy dan Bani Umayah adalah yang paling berhak untuk jabatan tersebut. Kelompok Ali Bin Abi Thalib mereka adalah penduduk Irak dan sedikit dari kalangan penduduk Mesir kelompok ini berpendapat bahwa jabatan khalifah harus berada ditangan kaum kafir Quraisy hanya saja Ali bersama puteranya yang paling berhak diantara kaum muslimin untuk jabatan tersebut, Kaum khawarij mereka adalah musuh kedua dari  kelompok diatas yang dianggap darahnya halal untuk di bunuh.[8] 
B.     Perkembangan Kaum Khawarij
Pada Masa Khalifah Ali Bin Abi Thalib
Pada saat ini awal kaum kawarij muncul karena sebab yang telah dikemukakan di muka, tahun 658 khalifah harus berperang melawan kaum Kawarij di an-Nahrawan Ali mendatangi mereka, mereka melarikan diri ke arah al-Jirs perang pun berlanjut yang melibatkan 65.000 orang menewaskan 30.000 orang khawarij  ini jelas terlihat jumlah kaum Khawarij yang lebih banyak tewas,[9] Muawiyah memanfaatkan momen ini dengan merebut Mesir dan Muawiyah berhasil dengan ini bertambahlah kekuatan muawiyah. Pemberontakan yang hebat dari Thalalah dan Zubair  menyebabkan lemahnya kedudukan Ali, terjadi pula pemberontakan di Basra, Mesir dan Persia terutama kaum Kawarij sangat melemahkan kekuatannya dan terus menerus menyibukkannya, kaum Khawarij merencanakan untuk membunuh Ali, Muawiyah dan Amar.[10] Pada saat Ali memasuki masjid untuk salat bertepatan pada 24 Januari 661 M ia di bunuh oleh Abdurrahman Ibn Muljam yang merupakan salah satu orang Kawarij,[11] maka berakhirlah pemerintahan khalifah Ali Bin Abu Thalib. Wilayah Islam sudah meluas, ketika itu ekspansi kekuasaannya dalam waktu tidak lebih dari setengah abad merupakan kemenagan menakjubkan yaitu baik ketimur, Persia, maupun ke barat, Mesir.  
    Pada Masa Muawiyah
Kaum kawarij lebih membenci muawiyah dari pada Ali, pemberontakan khawarij sambung menyambung dimasa ini Farwan Ibn Naufal a- Asyja’i yang pertama melakukan pemberontakan[12] ia telah mendurhaka kepada Ali dan al-Hasan bersama kaum kawarij Syahr Zur, kaum kawarij berhasil mengalakan muawiyah namun muawiyah menyeru kepada penduduk Koufah untuk memerangi kaum kawarij hingga kaum kawarij dapat dikalahkan. Kekalahan kedua belah pihak tidak membuat tekad dan semagat kaum kawarij surut untuk mempertahankan keyakinan mereka sebagai pihak yang benar. Pada tahun 53 H Muawiyah menyatukan daerah Kufah kedalam pemerintahan  Yazid, pada masa ini pemberontak banyak yang di penjara dalam keadaan tangan terpotong kondisi ini membuat kaum kawarij menjadi lemah, namun pada tahun 58 H kaum kawarij kembali memberontak tetapi Ziyad berhasil membunuh sebagian besar dari kaum kawarij. Ziyad berhasil  membunuh Urwah marahlah saudaranya Abu Bilal dan kemenangan di tangannya hanya saja kemenangan tersebut tidak berjalan lama karena Yazid berhasil membunuh Abu Billah  dalam peperangan yang sedang terjadi pada tahun 61 H. 
Pada Masa Abdul Malik  
Ketika Ziyad mengambil sikap tegas kepada kaum Khawarij di Irak membuat mereka terpojok, ketika kaum Kawarij mengetahui Abdullah bin Zubair berpihak dengan mereka, kaum ini bersedia berperang dengan penduduk Syam. Ketika kaum kawarij mengetahui Ibnu az Zubair tidak sejalan dengan pendapat mereka maka merekapun meninggalkan Mekkah : Nafi al Azraq, Abdullah bin Asr Shafar, Abdullah bin iyadh dan Hanzhalah bin Bahis mereka menuju ke Basrah. Ketika Nafi al Azrq memasuki Basrah ia dengan sahabatnya kembali membicarakan Jihad. Saat Nafi tiba di al-Ahwaz berkuasa di sana, peperangan orang Amawi dengan kaum Kawarij merupakan perang sangat menentukan hingga pada kekalahan, kekalahan di derita oleh penduduk Bashrah tahun 65H.
 Puncaknya perang kaum kawarij dengan penduduk Basrah di bawah al-Mulahhab bin Abu Shafrah bersama al-Ahnaf kaum kawarij menderita kekalahan dan pemimpin mereka terbunuh sehingga mereka mundur ke Kirman dan Asfahan. Adanya peluang bagi  kaum kawarij untuk bergerak di bawah tanah banyak anak-anak dan wanita yang di bunuh serta memungut pajak. Qathari Bin al- Fujaah ialah pemimpin kawarij pada saat ini peperangan berpuncak diantara mereka selama delapan bulan. Al Hajjaj diangkat menjadi gubernur, ia juga memerangi kaum kawarij dengan meminta bantuan pasukan tentara dari penduduk  Syam sebanyak 6000 pasukan yang di pimpin Abdul Malik, dan membuat kaum kawarij terpaksa harus menyebrang jembatan yang terletak di atas sungai tigris hingga mereka terjatuh di jembatan.
Pada Masa Umar bin Abdul Aziz
Muncul di Iraq seorang kawarij dari Bani Yasykur keluar untuk melakukan pemberontakan tetapi Umar sebagai pecinta persatuan atau perdamaian menghadapi kaum kawarij tidak dengan cara keras tetapi dengan cara dialog ia melakukan hal ini untuk menghilangkan perbedaan antara dua kelompok dengan cara mengungkapkan dalil yang diyakini. Ini semua membuahkan hasil sangat positif sehinga salah seorrang dari utusan kaum kawarij ini bersaksi bahwa umar benar. Seusai itu salah satu  diantarra keduanya kembali kepada Syaudzab dan  para pengikutnya untuk menelaah hasil dialog. [13] Banu Umayyah merasa khawatir bahwa jika umar memecat yazid mereka lalu meracuninya sehingga umar meninggal[14]  pada tanggal 25 Rajab tahun 101 H.

Akhir Pemberontakan Kawarij Daulat Amawiyah Abu Hamzah al-Khariji
Sepeninggalnya Adh Dhahhak kaum Kawarij belum mereda karena muncul lagi pemimpin yang baru Abu Hamzah al-Khariji. Pada tahun 129 H Abu Hamzah keluar menuju Mekkah bersama 700 tentara dari  pihak Abdullah Bin Yahya dan gubernur Mekkah mengajukan perdamaian hingga musim haji selesai, usai musim haji menginstruksikan kepada Abdul Aziz bin Abdullah untuk memerangi Abu Hamzah, fihak Abu hamzah pun mengakat senjata berhasil membunuh sebagian besar dari mereka, Abu Hamzah memasuki Madinah pada bulan Syafar tahun 130 H Abu Hamzah kembali melakukan penyerangan bertempat di Wadi al-Quran sehingga meletusnya perang dalam pertempuran ini Abu Hamzah bersama pasukannya mati terbunuh.
Marwan berhasil mengalahkan Abdullah bin Yahya bersama pengikutnya mati terbunuh pemberontakan yang di pimpin oleh Abu Hamzah adalah pemberontakan terakhir yang di lakukan kaum Kawarij yang selalu berusaha melakukan pemberontakan untuk mengubah sistem pemerintahan namun mereka tidak berhasil.[15]          
C.    Politik Dan Aliran Teologi Khawarij
 Sudut bidik tembakan Khawarij pada mulanya hanya masalah politik hingga berkembang kepada akidah dengan pemikiran revolusioner yang didasarkan pada “Barang siapa yang tidak menentukan hukum dengan ayat-ayat Allah adalah kafir”. Gagasan  kaum kawarij yang merupakan perpaduan antara pemikiran teologi dan politik hingga berimbas pada doktrin-doktrin di bidang politik dan teologi adapun gagasan dibidang politik yaitu: a. Khalifah atau imam akan sah hanya jika berdasarkan pemilihan secara bebas oleh seluruh umat Islam, jika Khalifah menyimpang ia wajib di jatuhkan dari jabatan bahkan di bunuh, dan menurut  pandangan mereka wanitapun bisa menjadi pemimpin asalkan mampu memimpin roda pemerintahan dan memenuhi kriteria sebagai kepala negara.[16]  b. Khalifah bukan monopoli suku Quraisy dan tidak harus berasal dari keturunan Arab dengan demikian setiap orang berhak menjadi khalifah apabila telah memenuhi syarat,[17] c. Khalifah di pilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syari’at Islam.
Berbicara di bidang teologi  sangat mencengangkan pasalnya menurut mereka jika seorang muslim melakukan dosa besar tidak menjalankan ibadah sholat maka ia wajib di bunuh, dan apabila seseorang yang meninggal dunia tanpa tobat dahulu maka ia akan masuk neraka selama-lamanya, seseorang yang tidak bersih hati nuraninya maka ia termasuk orang yang murtad, yang paling mengherankan menurut kaum kawarij umat islam yang tidak masuk golongan mereka ialah kafir. Ironisnya sikap mereka lebih lunak terhadap kaum non muslim jika dibandingkan dengan umat muslim yang tidak segolongan dengan mereka.   
Kebanyakan penafsiran kaum kawarij terhadap al-Qur’an sangat kaku, contohnya nafi menganggap bahwa dalam ayat al-Qur’an hukuman 80 kali cambukan yang di tetapkan untuk kejahatan karena tuduhan zina yang salah kepada wanita yang suci (Q.24:4-5) hanya saja dipakai ketika seorang memfitnah adalah seorang wanita dan tidak untuk pria. Ada banyak sskali bukti bahwa banyak pemimpin-pemimpin kawarij yang berpengetahuan tinggi dan mampu membentuk opini dasar mengenai dokrin. Nafi bin al-Azraq dikatakan menjadi faqih yang luar biasa yang berarti teolog ia merupakan seoarang murid dari sahabat Abdullah bin Abbas dan telah menyusun sebuah karya yang berjudul Questions. [18] disamping itu terdapat ciri khas kaum khawarij ialah kedangkalan akan pengetahuan dari perbuatan yang akan mereka lakukan, mereka sangat keras dan berlebih – lebihan dalam berr ibadah, mereka punya keberanian yang sangat tinggi, menganggap remeh kehidupan duniawi, kesetiaan yang amat tinggi, anarkisme[19]          
Berikut Aliran teologis
a.         Seseorang yang telah berdosa besar tidak dianggap lagi muslim sehingga harus di bunuh. Mereka juga berpendapat bahwa orang muslim juga dianggap kaawafir jiks tidak mau membuuh muslim yang lain yang telah kafir
b.         Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka bila tidak mau bergabung dengan golongan mereka ia wajib diperangi karena hidup dalam negara musuh sedangkan golomgan mereka sendiri dianggap dalam negara islam
c.         Seseorang harus menghindari dari pemimpin yang menyeleweng
d.        Menyakini orang jahat akan masuk syurgga dan orang jaht akanmasuk neraka
e.         Wajib amar ma’ruf nahi mungkar
f.          Al-Qur’an adalah sebagai makhluk (diciptakan)
g.         Manusia bebas memutuskan  perbuatannya bukan dari tuhan
Berdasarkan gagasan tersebut kaum kawarij terpecah akibat perbedaan gagasan menjadi beberapa golongan yaitu sebanyak 20 golongan yang berlainan satu sama lain, 
Aliran –aliran Khawarij
Azariqah yang dipimpin oleh  Nafi’ ibn al-Azraq menurut mereka yang tidak sependapat dengan mereka adalah kafir termasuk anaknya, mereka tidak mengakui adanya hukum rajam karena tidak terdapat dalam al-Qur’an, hukuman perzinaan hanya berlaku bagi kaum wanita, [20] menyatakan kafir keppada orang yang tidak ikut berperang,
Najdah ialah pengikut Najdah Ibnu Amir kaum ini tidak mengkafirkan orang yang tidak ikut berperang, suka memaafkan orang yang tidak tahu mereka berpendapat bahwa agama itu kepada dua hal yaitu mengenal Allah dan Rasul serta mengakui apa – apa yang datang dari Allah dan pengharaman darah kaum muslimin dan pengharaman merampas harta kekayaan, menganggap dosa pendusta lebih besar dari dosa penzina[21]

Aliran Sufriyah, aliran ini di bawah pimpinan  Ziyad bin al-Ashfar menurut aliran ini orang-orang yang tidak ikut serta berperang selama mereka sejalan dalam pandangan agama dan keyakinan, aliran ini juga berrpendapat bahwa tidak di benarkan membunuh anak –anak dan mengkafirkan atau menyatakan merreka kekal dalam neraka. [22]      

D.    Pengaruh Aliran Khawarij Pada Era Globalisasi Saat Ini
Seepeerti apa yang sudah kita saksikan di beberapa mancca neggara di kejutkan dengan berbagai teror bom khususnya di indonesia, sejarah mencatat  pada tanggal 11 September 2001 WTC dan Pentagon America di bom oleh orang yang tak di kenal dan beeerselang setahun kemudian fihak dari al-Qaeda mengaku yang telah melakukan tindakan yang sangat mengerikan membuat  Amerika pun kebakaran jenggot dan dunia gempar. Karena mereka tak menyangka negara adikuasa yang demikian hebat dapat dipecundangi, dan  bagaimana dengan Indonesia  di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 dan para pelakunya juga dari orang yang taat menjalankan ibadah agama islam,  dalam sejarah Indonesia, bumi pertiwi ini sempat dipicingkan matanya oleh radikalitas DI/TII; membuat makar di tengah masyarakat dan memberontak karena ingin mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Dan seperti kita ketahui hotel berbintang tujuh J.W. marriot beberapa dekade terakhir juga menjadi makanan bom teroris yang ada di indonesia bahkan sampai sekarang walaupun leadernya telah di hukum mati tetapi tetap saja pengikutnya masih ada dan melakukan berbagai cara untuk memperkuat barisannya demi menegakkan negara islam padahal di indonesia sudah lebih dari lima agama yang diakui oleh pemerintah.
Berrdasarkan penelusauran sejarah kekacauan yang di timbulkan oleh para pejuang islam  yang menyatakan berperang dengan kaum non islam demi menegakkan kalimah Allah dengan cara yang di laknat dunia ini maka di sini dapat kita melihat bahwasannya kaum kawarij masih meninggalkan alirannya yang dianutt oleh sekelompok umat islam saat ini yang  berasumsi bahwa semua orang yang tidak sepaham dengan merreka adalah kafir wajib di bunuh.


BAB III
PENUTUPAN
Maka berdasarkan pembahasan dimuka dapat kita menarik kesimpulan bahwa kaum kawarij muncul pada saat tampuk keppemimpinan Ali bin Abi Thalib karena tidak menerima tahkim yang sudah berjalan. Kaum ini secara terus meenerus melakukan pemberontakan mulai masa pada Ali bin Abi Thalib, Muawiyah,Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz, hingga pada akhirnya pada Abu Hamzah al –khariji.
Kaum ini yang banyak melahirkan pendapat yang ekstrim hingga terjadi perpeccahan didaalam kubu mereka yang menyebabkan munculnya berbagai golongan yaitu; Azariqah, Ibadyah, Syafariah dan Najjatpemikiran golongan ini berbeda-beda. Namun pada saat berperang dengan muawiyah mereka bersatu. Kaum Khawarij msdih meninggalkan pahamnya secara turn temurun daan berorganisasi hingga sampai saat ini yang menyebabkan keterangan akan kehadiran mereka di mancara negara sangat di takuti yang populer dengan sebutan Terroris yang di cetuskan oleh kelompok al – Qaeda
Saran
Berdasarkan uraian di atas maka dapat penulis menyarankan skepada pembaca sekalian agar dimanapun berada untuk dapat berwaspada dengan lingkungan baru karena kaum ini dapat menyusup dimanapun dan kapan pun jika pondasi agama kita tidak kuat maka kita akan terjeerumus dalam tindakan yang anarkis










DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Bin Sami.  Atlas Agama Islam, Jakarta Timur: Al-Mahira, 2009
Ahmad, Muhammad Tauhid Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia, 1997
Amin, Munir, Samsul. Sejarah pendiddikan Islam, Jakarta: Amzah, 2009
Hasan Ibrahim. Hasan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2003
Karim, M Abdul. Sejarah dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Publisher, 2007
Mahmudunnasir, Syed. Islam Konsepsi dan Sejarahnya, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1991
Mufrodi Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 1997
Projodikoro, HMS, Aliran-Aliran Dalam Ilmu Kalam, Yogyakarta: Sumbangsih Offset Anggota IKAPI, 1977
Rahman Fazlur, Gelombang Perubahan Dalam Islam, Jakarta: PT Raja Grfindo Persada, 2000
Syalabi,  Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1982  
Supriadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Cet X. Bandung: Pustaka Setia, 2008
Wijayanto, Munthaha, dkk, Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet. III. Yogyakarta: UII Yogyakarta, 1998
Yatim, Badri,  Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grfindo Persada, 1993


[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam  (Jakarta: PT Raja Grfindo Persada, 1993) hlm. 39
[2] Choirul Rofiq, Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern (Jawa Timur : UIN Pronorogo Press, 2009) hlm. 101
[3] Syed. Mahmudunasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1991) hlm. 198
[4] Imam Muhamad, Abu Zahra,  Aliran dan Politik dan Aqidah Dalam Islam (Jakarta : Logos 1996) hlm. 63
[5] Hasan Ibrahim,  Sejarah dan Kebudayaan Islam. ( Jakarta: Kalam Mulia, 2003) hlm.188
[6] Projodikoro,  Aliran-Aliran Dalam Ilmu Kalam. (Yogyakarta: Sumbangsih Offset Angggota IKAPI, 1977) hlm.7
[7] Ibid,..hlm. 11
[8] Hasan Ibrahim, Sejarah ., hlm.184
[9] M. Abdul Karim. Sejarah dan Peradaban Islam. (Yogyakarta: Pustaka Publisher, 2007) hlm.109
[10] Syed Mahmudunasir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1991) hlm. 201
[11] M. Abdul Karim, Sejarah dan., hlm.109
[12] Syalabi,  Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1982) hlm. 322  

[13] Ibrahim Hasan, Sejarah ., hlm.202
[14]  Syalabi,  Sejarah .,  hlm. 330
[15]  Hasan Ibrahim Hasan Sejarah ., hlm. 206
[16]  M. Abdul Karim, Sejarah .,  hlm. 108
[17]  Imam Muhamad, Abu Zahra,  Aliran .,  hlm. 69
[18] Rahman Fazlur, Gelombang Perubahan Dalam Islam, (Jakarta: PT Raja Grfindo Persada, 2000) hlm.47
[19]  Syalabi,  Sejarah .,  hlm. 358
[20] Imam Muhamad, Abu Zahra,  Aliran .,  hlm. 79
[21] Hasan Ibrahim Hasan Sejarah ., hlm. 212
[22] Ibid., 217

Partisipasi Orang Tua Dalam Membangkitkan Minat Siswa dalam Mengerjakan PR


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
Melihat keadaan bangsa Indonesia yang semakin berkembang, dimana pemerintah sangat giat mengadakan pembaharuan di segala bidang, salah satu diantaranya adalah dibidang pendidikan.
Pembaharuan itu begitu cepat terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi modern, maka setiap warga Indonesia mempunyai kemampuan kritis, kepribadian yang kokoh dan berakhlak mulia serta bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, agar tidak terombang-ambing oleh kemajuan zaman. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, sebagaimana telah ditetapkan dalam GBHN yang berbunyi sebagai berikut:
“Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya: Yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur memiliki pengetahuan dan keterampilan dan kesejahteraan jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab kemasyarakatan kebangsaan”

Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sitem Pendidikan Nasional menyatakan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pegendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Belajar merupakan usaha penguasaan suatu materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya dan kegiatan yang berproses dan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan itu amat tergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah, dirumah atau keluarganya sendiri.
Disekolah terdapat proses belajar mengajar yang merupakan interaksi antara guru dan siswa, agar siswa berhasil, siswa harus mampu memahami materi pelajaran yang nantinya diharapkan siswa dapat menyelesaikan ujian dengan baik sebagai hasil evaluasi belajar.
Dalam salah satu aktivitas belajar salah satu hal yang dilakukan guru selain menjelaskan materi adalah memberikan tugas. Tugas tersebut meliputi menjawab soal latihan buatan sendiri, soal dalam buku pegangan, mengerjakan PR, ulangan harian, ulangan umum dan juga ujian.[1]
Secara pragmatis teori belajar dapat difahami sebagai prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas semua fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar yaitu koneksi, pembiasaan klasik, pembiasaan prilaku responden pendekatan kognitif.
Pendekatan konigtif lebih menekankan arti penting proses internal, mental siswa, dan anak-anak memiliki kebutuhan yang melekat dalam dirinya sendiri untuk belajar, serta kebiasaan seorang siswa dapat ditiadakan oleh kemauan siswa itu sendiri. Oleh karena itu minat atau keinginan siswa dalam belajar, dapat timbul karena faktor dari dalam diri siswa itu sendiri maupun dorongan dan paksaan dari orang lain baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
Suatu kenyataan bahwa orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Apabila anak telah masuk sekolah, orang tua adalah mitra kerja yang utama bagi guru dan anaknya. Bahkan sebagai orang tua, berbagai peran pilihan yaitu : Orang tua sebagai pelajar, orang tua sebagai relawan, orang tua sebagai pembuat keputusan, orang tua sebagai anggota tim kerja sama antara guru dan orang tua.[2] Dalam peran-peran tersebut memungkinkan orang tua untuk berpartisipasi meningkatkan minat anak dalam pembelajaran.
Dalam rangka meningkatkan minat siswa di dalam mengerjakan pekerjaan rumah, orang tua harus berpartisipasi dalam proses belajar mengajar baik di sekolah maupun di rumah, karena tidak hanya guru yang berperan dalam pencapaian tujuan pebelajaran, tetapi orang tua harus juga turut andil didalam kegiatannya. Salah satu usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam rangka meningkatkan minat siswa dalam mengerjakan pekerjaan ruamah adalah dengan cara memberikan kontribusi dalam pembelajaran anak-anak dan orang tua juga berhak di libatkan dalam proses tindak lanjut tugas-tugas yang di berikan oleh guru di sekolah.
Dari hasil pengamatan sementara, orang tua siswa pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri Langsa yang dominan berpartisipasi dalam pekerjaan rumah siswa tetapi tidak sedikit juga dari mereka yang kurang memperdulikan dengan belajar siswa umumnya di sekolah dan dirumah pada khususnya, diakibatkan oleh berbagai faktor diantaranya faktor ekonomi keluarga, faktor kesibukan dalam berkarir dan sebagainya tidak hanya faktor eksternal tetapi faktor internal juga bagi keluarga yang brokenhome sehingga siswa kurang terperhatikan dalam belajarnya dirumah dalam menyelesaikan berbagai tugas yang di berikan oleh gurunya disekolah bertitik tolak dari hal tersebut maka maka penulis dapat mengambil suatu pernyataan bahwasannya orang tua kurang memperhatikan siswa dirumah disebabkan dengan bermacam-macam problem yang menyebabkan anak kurang terperhatikan sehingga anak tidak mendapat perhatian yang dapat berdampak dengan minat belajar siswa yaitu pada penyelesaian pekerjaan rumah.
Selain itu juga yang menyebabkan minat siswa rendah dalam mengerjakan pekerjaan rumah biasanya di sebabkan oleh kurangnya partisipasi dari orang tua. Jika tidak ada partisipasi orang tua dalam meningkatkan minat siswa mengerjakan pekerjaan rumah pada Madrasah Ibtidaiyah Nageri Langsa, maka minat siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah  tidak dapat memperoleh hasil yang seperti yang di harapkan. Karena minat yang di maksudkan adalah kegiatan seseorang untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru tersebut.
Dari uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengkaji “Partisipasi Orangtua Dalam Membangkitkan Minat Siswa Mengerjakan Pekerjaan Rumah Pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri  Langsa”.
  1. Rumusan Masalah
Berdasarkan dengan latarbelakang masalah di atas maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
  1. Apa saja yang di lakukan oleh orang tua sebagai bentuk partisipasi dalam membangkitkan minat siswa mengerjakan pekerjaan rumah pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri  Langsa.
  2. Bagaimana dampak dari partisipasi orang tua dalam membangkitkan minat siswa mengerjakan pekerjaan rumah pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri  Langsa?
  3. Penjelasan Istilah
Sebelum penulis menguraikan pembahasan dari skripsi lebih lanjut maka penulis perlu menjelaskan dari beberapa istilah untuk menghindari kekeliruan, kesalahfahaman dan juga untuk menyamakan persepsi antara penulis dan para pembaca, maka perlu dijelaskan beberapa istilah–istilah tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Partisipasi
Partisipasi adalah suatu bentuk manfaat atau sumbangsih baik tenaga maupun fikiran yang dihasilkan dari usaha individu atau kelompok di dalam proses pendidikan dalam rangka meningkatkan minat siswa mengerjakan pekerjaan rumah pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri  Langsa.
  1. Orang Tua
Orang tua terdiri ayah dan ibu atau seseorang yang mengasuh, mendidik, mengajarkan dan membimbing hal-hal tentang kehidupan yang telah di jalani baik dari suatu pengalaman dirinya sendiri maupun dari pengalaman orang lain sekaligus sebagai motorik dalam pembentukan kejiwaan dan karakteristik seseorang dimasa kanak-kanak hingga beranjak dewasa.
Dari pengertian tersebut dapat difahami bahwa yang dimaksudkan orang tua pada skripsi ini adalah ayah dan ibu dari siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri Langsa.
    1. Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal dan  aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. “Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri dan semakin kuat atau dekat hubungan tersebut maka semakin besar minat”.[3]  Minat atau interest bisa berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita cendrung atau merasa tertarik kepada orang, benda dan kegiatan.[4]
Berdasarkan devinisi-devinisi diatas, bisa disimpulkan bahwa minat adalah kecendrungan jiwa yang relatif menetap kepada diri seseorang dan biasanya disertai dengan perasaan senang.
  1. Siswa
Siswa adalah seseorang yang menuntut ilmu di sebuah tempat pembelajaran baik itu formal maupun informal guna menerima pelajaran yang di ajarkan oleh pendidiknya. Dalam pembahasan skripsi ini yang dimaksud siswa adalah siswa-siswi yang ada pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri Langsa.  
  1. Pekerjaan Rumah
PR merupakan tugas yang diberikan oleh guru kepada siswa untuk di kerjakan di luar sekolah agar dapat meningkatkan peningkatan pemahaman siswa mengenai materi-materi yang di ajarkan oleh guru dan merupakan sebagai alat untuk mempercepat langkah perolehan pengetahuan.
Seperti yang dikemukakan Noviani bahwa “PR merupakan tugas yang diberikan oleh guru kepada siswa untuk di kerjakan di luar sekolah agar dapat meningkatkan peningkatan pemahaman siswa mengenai materi-materi yang di ajarkan oleh guru dan merupakan sebagai alat untuk mempercepat langkah perolehan pengetahuan, PR dipercaya menjadi arti penting bagi kedisiplinan ingatan murid.” Oleh karena itu PR dianggap sebagai srtategi penting dalam pengajaran.[5]

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwasannya PR merupakan salah satu bagian dari evaluasi yang dilakukan oleh pendidik terhadap proses belajar mengajar, evaluasi berarti penentuan sampai seberapa jauh sesuatu berharga, bermutu atau bernilai.
  1. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Suatu penelitian akan berjalan dengan baik dan lancar serta berhasil apabila telah ditentukan dahulu tujuannya, tujuan dan manfaat penulis dalam pembahasan  skripsi ini adalah sebagai berikut:
Tujuan Penelitian.
  1. Untuk mengetahui apa saja yang dilakukan orang tua sebagai bentuk partisipasi dalam membangkitkan minat siswa mengerjakan pekerjaan rumah pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri  Langsa.
  2. Untuk mengetahui dampak partisipasi orang tua dalam membangkitkan minat siswa mengerjakan pekerjaan rumah pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri  Langsa.
Manfaat penelitian
  1. Guna menjadi sumbangan pikiran dan informasi kepada pendidik
  2. Sebagai bahan informasi atau bahan masukan bagi lembaga-lembaga pendidikan khususnya, buat masyarakat pada umumnya, serta bagi penulis sendiri untuk meningkatkan kemampuan belajar agar dapat di pergunakan kelak.
    1. Postulat dan Hipotesis
Postulat atau anggapan dasar adalah “suatu pendapat tentang suatu masalah yang kebenarannya dapatditerima sehingga tidak perlu pembuktian lagi"[6]
Dengan bertitik tolak uraian diatas, maka penulis menetapkan postulat sebagai berikut:
  1. Partisipasi orangtua merupakan hal yang terpenting didalam membangkitkan minat siswa mengerjakan pekerjaan rumah pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri Langsa
  2. Mengerjakan pekerjaan rumah adalah suatu bentuk belajar mengajar yang dicikan oleh adanya kegiatan perencanaan antara siswa dengan guru mengenai ssesuatu persoalan atau problema yang harus diselesaikan oleh siswa dalam jangka waktu yang disepakati bersama antara siswa dan guru di luar jam sekolah.
Hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap masalah yang dirumuskan, maka hipotesis yang dapat disimpulkan adalah sebagai berikut:
Bahwa dengan adanya partisipasi orang tua minat siswa mengerjakan pekerjaan rumah  menjadi bertambah sehingga menjadikan siswa dalam melaksanakan tugasnya diberikan semacam aturan yang memungkinkan siswa mau melaksanakan tugas dengan disiplin dan penuh rasa tanggung jawab.
F.      Metode Penelitian
  1. Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian yang di gunakan adalah pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah dimana peneliti instrumen kunci penelitian ini, untuk menentukan suatu teori melalui data yang di peroleh secara sistematis dan akurat sehingga dapat di terima kebenarannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosial pendidikan dan psikologi siswa, yaitu suatu cara pendekatan terhadap suatu masalah yang diteliti dalam mencapai suatu kebenaran dan ketetapan argumentasi yang akan di jadikan suatu kebijakan dengan kaidah yang ada dengan meletakkan spektrum yang lebih luas.[7]
Sumber data utama dalam penelitian ini diperoleh dalam setting alami. Peneliti berusaha memahami fenomena-fenomena yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.[8]
Secara umum penelitian ini dianalisis dengan pendekatan induktif, terutama pada waktu awal penelitian tersebut dilakukan. Pendekatan ini memungkinkan munculnya permasalahan baru yang perlu diidentivikasi dan dijadikan focus penelitian.[9] Penelitian ini yang mencari suatu sumber data secara langsung di lapangan yang dalam pembahasan skripsi ini adalah partisipasi orangtua dalam membangkitkan minat siswa mengerjakan pekerjaan rumah pada Madrasah Ibtidaiyah Langsa. Yang di dapat dari lapangan menjadi sumber primer.
Pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif biasanya dilakukan secara purposif rasional terkadang juga mengandung snowwball sampling technique penelitian kualitatif tidak bertujuan merumuskan karakteristik populasi atau menarik inferensi yang berlaku bagi suatu populasi. Penelitian ini bertolak pada asumsi bahwa realitas sosial bersifat unik, kompleks, terdapat regularitas tertentu, namun penuh variasi. Dengan demikian, kegiatan penelitian kualitatif dilakukan dengan cara memburu informasi seluas mungkin kearah keragaman yang ada. Konsep sampel dalam penelitian kualitatif berkaitan bagaimana memilih informan atau situasi sosial tertentu yang dapat memberikan informasi yang mantap terpecaya. Karenanya, diperlukan secara purposif, bukan secara acak. (random) Sampel adalah bagian dari pada populasi mengingat jumlah orang tua terlalu banyak di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Langsa. Yang bertujuan untuk memilih sejumlah kecil dan tidak harus representatif sampel yang dimaksudkan untuk mengarah kepada pemahaman[10] maka peneliti tidak mengambil seluruh orang tua untuk dijadikan sampel, melainkan hanya beberapa dari orang tua siswa yang menjadi target wawancara yaitu orang tua dari kelas IVa pada Madrasah Ibtidaiyah Negeri Langsa.
  1. Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif analitik, yaitu suatu penelitian yang berusaha mendeskripsikan, menjelaskan, memaparkan dan menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat dan hubungan antara fenomena yang di teliti. Dlam studi ini yang hendak dideskripsikan adalah partisipasi orang tua dalam membangkitkan minat siswa dalam mengerjakan pekerjaan rumah.
  1. Teknik pengumpulan data
Untuk memperoleh data yang kongkrit dan akurat dalam penulisan skripsi ini, maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah:
a.  Observasi, yaitu pengumpulan data melalui pengamatan terhadap berbagai fenomena yang di teliti. Ini lebih di tekankan pada fenomena sosial pendidikan dan psikologis siswa yang berhubungan dengan partisipasi orang tua dalam membangkitkan minat siswa mengerjakan pekerjaan rumah.
b. Wawancara yaitu metode yang berupa tanya jawab secara langsung dengan daftar pertanyaan yang telah direncanakan. Adapun responden atau informan dalam penelitian ini adalah siswa, guru dan orang tua siswa selaku orang tua yang berkaitan langsung dengan objek penelitian untuk mendapatkan informasi mengenai partisipasi orang tua dalam membangkitkan minat siswa mengerjakan pekerjaan rumah. Tekhnik wawancara menggunakan sistem snow ball, yaitu mencari informasi kunci, hingga sampai pada pada tingkat kejenuhan. Artinya tiodak lagi informasi baru yang di peroleh. Wawancara-wawancara ini dilakukan secara tidak berstandar dan tidak terstuktur, namun tetap berfokus pada permasalahan.
c.  Studi dokumentasi merupakan studi data tertulis yang mengandung keterangan dan penjelasan serta pemikiran tentang fenomena yang masih aktual. Studi dokumentasi berproses dan berawal dari penghimpunan dokumen, memilih-milih dokumen sesuai dengan tujuan penelitian, menerangkan dan mencatat serta menafsirkannya serta menghunbung-hubungkannya dengan fenomena lain. Disamping itu pengumpulan data yang melalui dokumen-dokumen yang relevan dengan objek penelitian.
5.      Metode Analisis Data Dalam Kualitatif
Data yang bersifat naratif, deskriptif dalam kata-kata yang penulis uraikan tentang partisipasi orang tua dalam membangkitkan minat mengerjakan pekerjaan rumah yang terdiri dari catatan pribadi, catatan lapangan, artifak dokumen resmi Menggunakan metode induktif, yaitu menganalisis dan memaparkan data-data yang bersifat khusus, kemudian menderivikasikannya dalam bentuk  generalisasi.
Data-data yang dimaksud diatas akan dianalisis dengan metode perbandingan tetap secara deskriptif yang sebagian besar berasal dari wawancara, catatan pengamatan, catatan dianalisis untuk pola-pola dan tema yang dideskripsikan dan dan diilustrasikan dengan contoh-contoh termasuk kutipan-kutipan dan rangkuman dari dokumen dan dianalisis verbal.[11]
Tidak hanya itu dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kompenensial ialah yang menggunakan pendekatan kontras elemen dengan ini kita dapat mengenal gejala-gejala social yang memiliki kesamaan unsur, akan mengelompokkan secara alamiah dan setiap gejala social yang tidak memiliki kesamaan unsur akan menampakkan untuk memisahkan diri.[12]
6.      Kriteria Keabsahan Penelitian Kualitatif
Menurut Loncoin dan Guba setidak-tidaknya ada 4 tipe criteria utama keabsahan penelitian kualitatif yaitu: Pertama, Kredibilitas dengan criteria ini data dan informasi yang diperoleh harus mempunyai nilai kebenarannya, Kedua, Dedapendabilitas ialah untuk mengetahui apakah proses penelitian bermutu atau sebaliknya, Ketiga, Konfirmabilitas untuk menilai hasil penelitian dengan penelusuaran dan pelacakan catatan rekaman data lapangan dan koherensinya dalam interprestasi dan simpulan hasil penelitian yang dilakukan auditor, dan Keempat, transferabilitas artinya bahwa penelitian yang dilakukan dalam konteks tertentu dapat di aplikasikan atau di transfer pada konteks lain.[13]
7.      Tekhnik Penulisan
Adapun penulisan dalam skripsi ini penulis berpedoman pada buku pedoman penulisan karya tulis ilmiah fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh Darussalam Tahun 2008.

TINJAUAN TEORI

A.     Pengertian Partisipasi dan Minat Belajar
1.      Partisipasi
Menurut Suryabrata partisipasi adalah “Pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu objek”[14] Sedangkan Bimo Walgito mengemukakan bahwa “ Partisipasi merupakan pemusatan atau kosentrasi dari seluruh aktivitas individu yang di tujukkan kepada sesuatu atau sekelompok objek”.[15] Kemudian Kartini Kartono menyatakan bahwa “ Partisipasi itu merupakan reaksi umum dari organisme dan kesadaran, yang menyebabkan bertambahnya aktivitas, daya kosentrasi, dan pembatasan kesadaran terhadap satu objek”.
Dari beberapa pengertian partisipasi menurut para pakar tersebut maka dapat disimpulkan bahwa partisipasi adalah pemusatan atau kesadaran jiwa yang diarahkan kepada sesuatu objek tertentu yang memberikan ransangan kepada individu, sehingga ia hanya mempedulikan objek yang meransang itu. Dari pengertian ini, maka partisipasi orang tua dapat diartikan sebagai kesadaran orang tua untuk mempedulikan anaknya, terutama dalam hal memberikan dan memenuhi kebutuhan anaknya, baik dari segi emosional maupun material.
Partisipasi orang tua dalam pendidikan anak salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa berasal dari luar siswa (faktor eksternal) adalah faktor lingkungan keluarga. Suatu keluarga inti terdiri atas ayah, ibu, dan anak atau keluarga yang diperluas (di samping inti, ada orang lain : kakek/nenek, adik/ipar, pembantu, dan lain-lain). Seorang anak dalam kenyataannya lebih cenderung dekat kepada ibunya daripada ayahnya. Kenyataan ini dapat dipahami atas rasional bahwa memang dalam keseharian, ibu lebih dekat dengan anak -anaknya daripada ayahnya karena pekerjaan yang diembannya. Namun demikian, baik ayah maupun ibu memiliki tanggung jawab yang sama terhadap pendidikan anaknya yaitu; Orang tua sebagai pemotivator belajar anak di luar sekolah, Orang tua sebagai pembimbing anak dirumah, Orang tua sebagai pengarah dan pelindung anak, Orang tua sebagai orang yang memenuhi kebutuhan anak, agar proses pendidikan anak dapat berhasil.
Pendidik dalam lingkungan keluarga adalah orang tua hal ini disebabkan karena secara alami anak-anak pada masa awal kehidupannya berada di tengah-tengah ayah dan ibu dari merekalah anak baru mengenal pendidikannya. Dasar pandangan hidup, sikap hidup, dan keterampilan hidup banyak tertanam saat anak-anak berada di tengah-tengah orang tuanya.
Kematangan emosional orang tua sangatlah mempengaruhi keadaan perkembangan anak dan menentukan taraf pemuasan kebutuhan-kebutuhan psikologis yang penting pada anak dalam kehidupannya di dalam keluarga, dan tidak matangnya emosional orang tua menyebabkan perlakuan-perlakuan orang tua yang kurang atau pedagogis terhadap anak-anak mereka.[16]
2.      Minat Belajar
Minat belajar terdiri dari dua kata yakni minat dan belajar untuk itu penulis akan mendivinisikannya sebagi berikut:
Menurut Berhard “minat” timbul atau muncul tidak secara tiba-tiba, melainkan timbul akibat dari partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar atau bekerja dengan kata lain, minat dapat menjadi penyebab partisipasi dalam kegiatan.[17]
Minat menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah kecendrungan hati yang tinggi terhadap suatu gairah keinginan yang bisa berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita cendrung atau merasa tertarik pada orang, benda dan kegiatan[18]
Sementara itu menurut Slameto minat merupakan:

Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa anak didik lebih menyukai suatu hal dari pada hal yamh lain, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Anak didik memiliki minat terhadap subjek tertentu cendrung untuk mencapai memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek tersebut.[19]

Lamanya minat bervariasi kemampuan dan kemauan menyelesaikan suatu tugas yang diberikan untuk selama waktu yang ditentukan berbeda-beda baik dari segi umur maupun bagi masing-masing individu.
Disamping itu Slameto menambahkan bahwa minat tidak di bawa sejak lahir melainkan di peroleh kemudian dengan kata lain minat dapat di tumbuhkan dan dikembangkan pada diri anak didik yaitu dengan jalan memberikan informasi pada anak didik mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu atau menguraikan keguanaannya dimasa akan datang bagi anak didik.[20]

“Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkahlaku yang baru berkat pengalaman dan latihan.”[21]
Jadi berdasarkan pengertian diatas maka yang dimaksud dengan minat belajar adalah aspek psikologi seseorang yang menampakkan diri dalam bebrapa gejala seperti: gairah, keinginan, perasaan suka untuk melakukan proses perubahan tingkah laku melalui berbagai kegiatan yang meliputi mencari pengetahuan dan pengalaman, dengan kata lain minat belajar itu adalah perhatian, rasa suka, ketertarikan seseorang (siswa) terhadap belajar yang ditunjukkan melalui keantusiasan, partisipasi dan keaktifan dalam belajar.
B.     Bentuk Partisipasi Orang Tua Terhadap Belajar siswa
Orang tua memiliki peranan yang penting dalam menentukan dan mengarahkan sekolah yang tepat buat anaknya. Tapi bukan suatu hal yang bijak jika pendidikan sepenuhnya diserahkan hanya pada pihak sekolah saja. Sebagus apapun kualitas tempat anak menuntut ilmu secara formal, orang tua tetap memiliki andil yang besar apakah pendidikan yang dijalaninya berhasil atau tidak, Melihat kondisi anak yang masih labil, pada dasarnya anak sering mengalami kebingungan dalam memilih sekolah yang tepat.
Hal ini disebabkan anak belum mampu mempertimbangkan pendidikan model apa yang terbaik buat dirinya, maka orang tua berkewajiban mencarikan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya. Pendidikan yang baik tentunya sesuai dengan karakteristik anak. Masing-masing anak mempunyai kebutuhan berbeda untuk model pendidikannya, sesuai dengan kemampuan anak, dan juga kemauan anak, dalam hal ini bukan berarti orang tua boleh memaksakan kehendaknya, tapi lebih pada memberi pengertian pada si anak sekolah apa yang cocok buat dirinya, dan prospek ke depan bagaimana dan tentunya harus paham kemampuan anak bagaimana, Ada beberapa hal yang harus dipertimbangan orang tua ketika memilih sekolah, buat anak-anaknya. Misalnya saja dari fasilitas sekolah yang terdiri dari ruang kelas, lapangan olahraga, fasilitas pendukung lainnya.
 Sumber daya Manusia sekolah, guru, kepala sekolah, kurikulum yang ditawarkan lokasi, dan tentu saja biaya yang dibutuhkan. Semakin hari biaya pendidikan semakin mahal, demikian juga penawaran berbagai model pendidikan yang harus diseleksi sesuai dengan kemampuan dan kemauan anak, sebagus apapun fasilitas pendidikan dimana anak bersekolah, bukan berarti orang tua lepas tangan dan menyerahkan sepenuhnya pada orang tuanya. Justru pendidikan sebenarnya diperoleh anak melalui sosialisasi keluarga. Dalam keluarga ada beberapa hal yang menjadi poin penting yang perlu ditekankan pada anak, diantaranya pendidikan agama, pendidikan moral, life skill, bahkan sampai pendidikan formal.
Disamping orang tua sebagai pendidik yang merupakan bagian dari pada keluarga disebutjuga dengan pendidikan di lingkungan keluarga yang mempunyai sifat-sifat umum yaitu; lembaga tertua, lembaga pendidikan informal, lembaga pendidikan utama dan pertama, serta bersifat kodrat tidak hanya itu tetapi mempunyai fungsi yaitu pengalaman pertama masa kanak-kanak, yang menjamin kehidupan emosional anak, menanamkan dasar pendidikan moral, memberikan dasar kesosialan, serta dapat pula menjadi lembaga pendidikan penting untuk meletakkan dasar pendidikan yang baik.[22]
Penaggung jawab pembinaan anak menurut Islam ialah orang tua, guru dan masyarakat, ketiga penanggung jawab itu berada dalam lingkungan berbeda, penaggung jawab utama pembinaan anak adalah orang tua dalam keluarga.
Demikian pula Islam memerintahkan agar para orang tua berlaku sebagi pemimpin dalam keluarganya serta berkewajiban untuk memelihara keluarganya sebagaimana firman Allah sebagai berikut:
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÏtø:$#ur $pköŽn=tæ îps3Í´¯»n=tB ÔâŸxÏî ׊#yÏ© žw tbqÝÁ÷ètƒ ©!$# !$tB öNèdttBr& tbqè=yèøÿtƒur $tB tbrâsD÷sムÇÏÈ
Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S At-Tahrim ayat 6)

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa keluarga adalah wadah pertama yang dikenal oleh anak maka orang tua dapat memberikan pendidikan kepada anak dalam segala aspek kehidupan, baik aspek sosial, pembinaan akhlak dsb, oleh karena itu baik tidak siswa itu sangat tergantung pada partisipasi orang tua dalam membimbing anak menyongsong masa depan yang lebih baikatau cerah.
Orang tua yang mempunyai kedudukan dalam keluarga punya tanggung jawab penuh demi kelangsungan keluarganya harus memberikan segala kebutuhan hidup dan memberikan perlindungan terhadap semua anggota keluarga. Pendidikan merupakan hal yang utama dalam perhatian orang tua, dengan demikian kepribadian anak dapat tumbuh dan berkembang sehingga suatu hari nanti bila ia tumbuh dan dewasa dapat hidup mandiri, orang tua di tuntut semaksimal mungkin agar mampu memberikan perhatiannya bagi anak-anaknya.[23]

Tanggung jawab pendidikan yang perlu disadarkan dan dibina oleh kedua orang tua terhadap anaknya antara lain sebagai berikut:
1.      Memelihara dan membesarkannya. Tanggung jawab ini merupakan dorongan alami untuk dilaksanakan, karena anak memerlukan makan,minum dan perawatan, agar ia dapat hidup secara berkelanjutan.
2.      Melindungi dan menjamin kesehatannya, baik secara jasmanimaupun rohani dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya
3.      Mendidiknya dengan berbagi ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi hidupnya, sehingga apabila ia telah dewasa ia mampu berdiri sendiri dan membantu orang lain serta melaksanakan kekhalifahan.
4.      Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinya pendidikan agama sesuai dengan ketentua Allah sebagi tujuan akhir hidup muslim.[24]

Partisipasi orang tua, terutama dalam hal pendidikan anak sangatlah di perlukan. Terlebih lagi yang harus difokuskan adalah perhatian orang tua terhadap aktivitas belajar yang di lakukan oleh anak-anak dalam kehidupan sehari-hari dalam kapasitasnya sebagi siswa dan penuntut ilmu yang akan diproyeksikan kelak sebagai pemimpin masa depan.
Seperti halnya masalah-masalah yang lain, sekolah sangat beragam dalam jenis dan jumlah pekerjaan rumah yang mereka tugaskan dimasa sekolah dasar. Guru yang baik menugaskan beberapa pekerjaan rumah dengan berbagai tujuan agar anak-anak mempersiapkan sebuah latihan, mempraktekkan sebuah kemampuan yang diajarkan dikelas atau mendorong kreativitas atau riset individual. Mereka mendorong anak untuk mengerjakan pekerjaan rumah namun tidak terlalu membebani. Berikut ini beberapa cara untuk membantu anak dalam mengerjakan pekerjaan rumah.
1.      Sediakan tempat yang tenang, yang memiliki penerangan yang baik
2.      Bangun sebuah waktu reguler teratur
3.      Jangan biarkan anak anda membuang waktu
4.      Tanyakan kepada anak apakah perlu bantuan
5.      Jika anak anda tidak sedang berfikir, cek pekerjaannya dan berikan pertanyaan maupun sugesti.
6.      Bersedialah untuk menjaawab pertanyaan-pertanyaan namun jangan mengambang.
7.      Bicarakanlah proyek pekerjaan rumah anak anda dengan seluruh keluarga dan minta orang-orang untuk memberikan ide-ide
8.      Jangan tidak sabar atau jengkel.[25]

Semua orang tua dapat menjadi model bagi anak: guru, anggota keluarga atau kakek-nenek tetapi model yang paling penting adalah orang tua yang kreatif yang memusatkan perhatiannya pada minatnya, yang menunjukkan keahlian dan disiplin diri dalam bekerja, semangat dan motivasi intrinsik. Orang tua dapat membantu anak menemukan minat-minat mereka yang paling mendalam dengan mendorong anak untuk melakukan kegiatan yang beragam, menunjukkan kesempatan dan kemungkinan yang ada. Minat anak berkembang dan anak yang berkembang serta dapat berubah dengan berselangnya waktu. Orang tua hendaknya dapat menghargai minat intrinsik anak, dan menunjukkan perhatian dengan melibatkan diri secara intelegtual dengan baik, mendiskusikan masalah, mempertanyakan, menjajaki dan mengkaji. [26]
Bentuk partisipasi orang tua terhadap belajar anak berupa pemberian bimbingan nasihat, pengawasan terhadap belajar anak, pemberian motivasi dan pernghargaan serta pemenuhan kebutuhan belajar anak serta pertemuan dengan guru.
1.      Pemberian Bimbingan Belajar
Menurut Oemar Hamalik dengan mengutip pendapat Stikes dan Dorcy, menyatakan bahwa bimbingan adalah “Suatu Proses untuk menolong individu dan kelompok supaya individu itu dapat menyesuaikan diri dan memecahkan masalah-masalahnya”. Kemudian ia juga mengutip pendapat Stoops, yang menyatakan bimbingan adalah suatu proses yang terus menerus untuk membantu perkembangan individu dalam rangka mengembangkan kemampuannya secara maksimal untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya, baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat.”[27]
Dari beberapa devinisi bimbingan yang telah di kemukakan di atas jika di bandingkan bimbingan orang tua terhadap anaknya bahwa bimbingan adalah bantuan yang di berikan oleh orang tua kepada anaknya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Keluarga merupakan buaian tempat anak melihat cahaya kehidupan pertama, sehingga apapun yang dicurahkan dalam sebuah keluarga akan meninggalkan kesan yang mendalam terhadap watak, pikiran serta sikap dan perilaku anak. Sebab tujuan dalam membina kehidupan keluarga adalah agar dapat melahirkan generasi baru sebagai penerus perjuangan hidup tua Untuk itulah orang tua mempunyai tanggung jawab dan kewajiban seperti yang tersirat dalam Firman Allah SWT sbb:
|·÷uø9ur šúïÏ%©!$# öqs9 (#qä.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz Zp­ƒÍhèŒ $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{ öNÎgøŠn=tæ (#qà)­Guù=sù ©!$# (#qä9qà)uø9ur Zwöqs% #´ƒÏy ÇÒÈ   
Artinya:  Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S. an-Nisaa’ ayat 9)

Bimbingan belajar terhadap anak berarti pemberian bantuan kepada anak dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana dan dalam penyesuaian diri terhadap tuntutan-tuntutan hidup, agar anak lebih terarah dalam belajar dan bertanggung jawab dalam menilai kemampuannya sendiri dan menggunakan pengetahuan mereka secara efektif bagi dirinya, serta memiliki potensi yang berkembang secara optimal meliputi semua aspek pribadinya sebagai individu yang potensial.
Didalam belajar anak membutuhkan bimbingan. Anak tidak mungkin tumbuh sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Anak sangat memerlukan bimbingan dari orang tua terlebih lagi dalam masa belajar. Seorang anak mudah sekali putus asa karena ia masih labil, untuk itu orang tua perlu memberikan bimbingan pada anak karena ia masih belajar. Dengan pemberian bimbingan ini anak merasa semakin termotivasi, dan dapat menghindarkan kesalahan dan memperbaikinya.
Dalam upaya orang tua memberikan bimbingan kepada anak yang sedang belajar dapat dilakukan dengan menciptakan suasana diskusi di rumah. Banyak keuntungan yang dapat diambil dari terciptanya situasi diskusi di rumah antara lain; memperluas wawasan anak, melatih menyampaikan gagasan dengan baik, terciptanya saling menghayati antara orang tua dan anak, orang tua lebih memahami sikap pandang anak terhadap berbagai persoalan hidup, cita-cita masa depan, kemauan anak, yang pada gilirannya akan berdampak sangat efektif bagi daya dukung terhadap kesuksesan belajar anak. Hendaknya orang tua membimbing anaknya dengan cara lemah lembut dan menghindari kekerasan
Allah itu Maha Lemah Lembut, cinta kelemahlembutan. Diberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan kepada kekerasan dan kepada selainnya. Tidaklah kelemahlembutan itu terdapat pada sesuatu melainkan akan membuatnya indah, dan ketiadaannya dari sesuatu akan menyebabkannya menjadi buruk.
2.      Memberikan Nasehat
Bentuk lain dari partisipasi orang tua adalah memberikan nasehat kepada anak, menasehati anak berarti memberi saran-saran untuk memecahkan suatu masalah, berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan pikirn sehat. Nasehat dan petuah memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membuka mata anak-anak terhadap kesadaran akan hakikat sesuatu serta mendorong mereka untuk melakukan sesuatu perbuatan yang baik. Betapa pentingnya nasehat orang tua terhadap anaknya sehingga Allah SWT Berfirman :  
 øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ
Artinya:  Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.{ Q.S. Luqman Ayat 13}

Nasihat dapat diberikan orang tua pada saat anak belajar di rumah. Dengan demikian maka orang tua dapat mengetahui kesulitan-kesulitan anaknya dalam belajar. Karena mengenai kesulitan kesulitan belajar tersebut dapat membantu usaha untuk mengatasi kesulitannya dalam belajar sehingga anak dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
Dan dalam memberi nasihat harus ada kesenjangan waktu yaitu seperti al kisah berikut: Ibnu Mas’ud hanya memberi nasihat kepada para sahabat setiap hari Kamis. Maka ada seorang yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdur Rahman, alangkah baiknya jika Anda memberi nasihat kepada kami setiap hari.” Beliau menjawab, “Saya enggan begitu karena saya tidak ingin membuat kalian bosan dan saya memberi senjang waktu dalam memberikan nasihat sebagaimana Rasulullah lakukan terhadap kami dahulu, karena khawatir kami bosan.” (Muttafaq ‘alaih).
3.      Memberikan Hukuman
Disamping memberikan nasihat, kadangkala orang tua juga dapat menggunakan hukuman. Hukuman diberikan jika anak melakukan sesuatu yang buruk, tidak melakukan perintah orang tua yang merupakan bersifat kebajikan merupakan metode efektif pendidik misalnya ketika anak malas belajar atau malas masuk sekolah.[28] Tujuan diberikan hukuman ini adalah untuk menghentikan tingkah laku yang kurang baik dan tujuan selanjutnya adalah mendidik dan mendorong anak untuk mengehentikan sendiri tingkah laku yang tidak baik.
Disamping itu hukuman yang di berikan harus wajar, logis, objektif, dan tidak membebani mental, serta harus sebansing antara kesalahan yang di perbuat dengan hukuman ynag di berikan. Apabila hukuman terlalu berat, anak cendrung untuk menghindar atau meninggalkan. Dalam hal ini M. Ngalim Purwanto mengengemukakan sifat hukuman yang mendidik yaitu:
a.       Senantiasa merupakan jawaban atas suatu pelanggaran
b.      Sedikit banyaknya selalu bersifat tidak menyenangkan
c.       Selalu bertujuan kearah perbaikan hukuman itu hendaklah di berikan untuk kepentingan anak itu sendiri.[29]

4.      Pengawasan Terhadap Belajar
Orang tua perlu mengawasi pendidikan anak-anaknya, sebab tanpa adanya pengawasan yang kontiu dari orang tua, besar kemungkinan pendidikan anak tidak berjalan lancar. Pengawasan orang tua tersebut dalam arti mengontrol atau mengawasi semua kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh anak baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pengawasan orang tua terhadap anaknya biasanya lebih di utamakan dalam masalah belajar. Dengan cara ini orang tua akan mengetahui kesulitan apa yang dialami anak, kemunduran atau kemajuan belajar anak, apasaja yang di butuhkan anak sehubungan dengan aktivitas belajarnya. Dengan demikian orang tua dapat membenahi segala sesuatunya sehingga akhirnya anak dapat meraih hasil belajar yang maksimal dan yang tidak kalah untuk di perhatikan yaitu orang tua harus penyabar dan tidak pemarah, karena dua sifat ini dicintai Allah swt.
5.      Pemenuhan Kebutuhan Siswa 
Kebutuhan belajar anak segala alat dan sarana yang di perlukan untuk menunjang kegiatan belajar anak. Kebutuhan tersebut biasa berupa ruang belajar, seragam sekolah, buku-buku alat-alat belajar sekolah dan lain-lain. Pemenuhan kebutuhan belajar ini sangat penting bagi anak, karena akan dapat mempermudah baginya untuk belajar dengan baik. Tersedianya fasilitas belajar dan kebutuhan belajar yang memadai akan berdampak positif dalam aktivitas belajar anak-anak yang tidak terpenuhi kebutuhan belajarnya sering kali tidak memiliki semangat untuk belajar. Lain halnya jika segala kebutuhan belajarnya tercukupi, maka anak tersebut akan lebih bersemangat dan berminat dalam belajarnya.
Mengenai perhatian terhadap kebutuhan belajar, kaitannya dengan minat mengerjakan pekerjaan rumah mempunyai pengaruh yang sangat kuat. Hal itu dapat di ketahui bahwa dengan dicukupinya kebutuhan belajar, berarti anak merasa diperhatikan oleh orang tua, kebutuhan seperti buku merupakan unsur yang sangat penting dalam upaya peningkatan minat siswa dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Dengan demikian sudah sepatutnya orang tua untuk memperhatikan dan berusaha memenuhi kebutuhan belajar anak. Tidak hanya itu tetapi ada beberapa kebutuhan lain yang harus di penuhi yaitu: Kebutuhan fisik, Kebutuhan sosial, Kebutuhan untuk mendapat status, Kebutuhan untuk mandiri, Kebutuhan untuk berprestasi, Kebutuhan ingin disayangi dan dicintai, Kebutuhan untuk curhat. [30]

6.      Pertemuan orang Tua dengan Guru
Pihak sekolah dapat menyiapkan beberapa metoda untuk dapat melibatkan orang tua pada pendidikan anak, diantaranya dengan cara; Acara pertemuan guru-orang tua, Komunikasi tertulis guru-orang tua, Meminta orang tua memeriksa dan menandatangani PR, Mendukung tumbuhnya forum orang tua murid yang aktif diikuti para orang tua, Kegiatan rumah yang melibatkan orang tua dengan anak dikombinasikan dengan kunjungan guru ke rumah, Terus membuka hubungan komunikasi (telepon, sms, e-mail, portal interaktif dll), Dorongan agar orang tua aktif berkomunikasi dengan anak.
Diantara teori pendidikan menyebutkan sebuah paradigma tripartite (tiga pusat pendidikan), yang menempatkan sekolah, keluarga dan masyarakat sebagai tiga elemen yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan. Dari ketiga elemen tripartite itu, keluarga merupakan fokus utama yang harus mendapat perhatian lebih, karena anak lebih banyak berada di rumah.
Cara yang terbaik untuk berkomunikasi dengan sekolah adalah bertemu langsung dengan guru. Dengan berhadap-hadapan, anda dapat menyampaikan pertanyaan-pertanyaan dan memberikan informasi yang berguna bagi anak dan guru dapat melaporkan secara langsung mengenai kemajuan anak dan akan mengatakan kepada anda apa yang dapat anda lakukan untuk membantu belajar anak sebagian sekolah menjadwalkan pertemuaan orang tua dengan guru.[31]
Dalam upaya saling membantu antar orang tua dan guru dalam belajar anak ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang tua yaitu: Menemani anak, menggembirakan hati anak, membangun kompetisi sehat dan memberi imbalan kepada pemenangnya, memberi pujian, bercanda dan bersenda gurau, membangun kepercayaan diri anak, memanggil dengan panggilan yang baik, memenuhi keinginan anak, bimbingan terus-menerus, bertahap dalam pengajaran, imbalan dan ancaman.
Pendidikan anak pada hakikatnya adalah tanggung jawab para orang tua. Oleh karena itu keterlibatan orang tua dalam mendukung sukses anak menuntut ilmu di sekolah merupakan kewajiban. Untuk menjadi pendidik yang baik, orang tua mesti menghiasi dirinya dengan keshalihan. Peran penting orang tua adalah membangun dan menyempurnakan kepribadian dan akhlak mulia pada anak. Untuk itu perlu sikap-sikap pendidik seperti sabar, lembut, dan kasih sayang. Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah berpengaruh positif pada; Membantu penumbuhan rasa percaya diri dan penghargaan pada diri sendiri, meningkatkan capaian prestasi akademik, meningkatkan hubungan orang tua-anak, membantu orang tua bersikap positif terhadap sekolah, menjadikan orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap proses pembelajaran di sekolah.
C.     Minat Belajar Siswa 
Tidak adanya minat seseorang anak terhadap suatu pelajaran akan timbul kesulitan belajar. Belajar yang tidak ada minatnya mungkit tidak sesuai dengan bakatnya, tidak sesuai dengan kebutuhan, tidak sesuai dengan kecakapan, tidak sesuai dengan kecakapan, tidak sesuai dengan tipe-tipe khusus anak banyak menimnbulkan problema pada dirinya. Karena itu pelajaranpun tidak pernah terjadi proses dalam otak, akibatnya timbulnya kesulitan dalam belajar. Ada tidaknya minat terhadap sesuatu pelajaran dapat di lihat dari anak mengikuti pelajaran, lengkap tidaknya catatan, memperhatikan garis miring tidaknya dalam pelajaran itu. Dari tanda-tanda itu orang tua dapat menemukan apa sebab kesulitan belajarnya disebabkan karena tidak adanya minat belajar.[32]
Minat siswa mempunyai pengaruh beasar terhadap belajar, karena minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan siswa, bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya sebab tidak ada daya tarik baginya.
1.      Peranan dan Fungsi Minat
Minat memgang peran penting dalam keidupan manusia dan mempunyai dampak yang besar atas prilaku dan sikap, minat menjadi sumber yang kuat untuk belajar, anak yang berminat terhadap suatu kegiatan baik itu bekerja maupun belajar akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Suatu minat belajar merupakan suatu kejiwaan yang menyertai siswa di rumah dan di sekolah dan menemani siswa dalam belajar. Minat mempunyai fungsi sebagai pendorong yang kuat dalam mencapai prestasi dan minat juga dapat menambah kegembiraan pada setiap yang ditekuni oleh seseorang.
Peranan minat dalam proses belajar ialah dapat menciptakan, menimbulkan kosentrasi atau perhatian dalam belajar, dapat menimbulkan kegembiraan atau perasaan senang dalam belajar, dapat memperkuat ingat siswa tentang pelajaran yang diberikan oleh guru, dapat melahirkan sikap belajar yang positif dan konstruktif dan dapat memperkecil kebosanan siswa terhadap studi pelajaran. Ada beberapa proses belajar berlangsung adalah: belajar dan kematangan, belajar dan pengalaman, belajar dan bermain, belajar dan pengertian, belajar dan dan menghafal /mengingat, belajar dan latihan.
Minat itu dapat berasal dari luar maupun dari dalam diri siswa, minat seseorang dapat saja berubah karena adanya pengaruh dari luar seperti lingkungan, orang tua dan bisa saja gurunya dari beberapa hal diatas maka yang diperbincangkan dalam skripsi, minat yang tumbuh karena adanya pengaruh dari orang tua. Disamping itu terdapat juga peranan dan fungsi minat, minat memegang peranan penting dalam kehidupan dan mempunyai dampak yang besar atas prilaku dan sikap, minat menjadi sumber motivasi yang kuat untuk belajar, anak yang berminat terhadap sesuatu kegiatan baik itu bekerja maupun belajar, akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan yang diinginkan, suatu minat belajar merupakan suatu kejiawaan yang menyertai siswa di rumah dan dikelas dalam belajar.
Pemusatan perhatian dan minat belajar terletak dalam suatu kontinum ynag bergerak dari sikap apatis atau tidak sama sekali menaruh minat sampai dengan yang sangat berminat. Minat atau perhatian belajar ini sangat berhubungan dengan kegiatan belajar. Kegiatan belajar juga bergerak dari yang berisi kegiatan kompetitif, yang banyak membangkitkan minat belajar anak sampai bersifat excessive.[33]
Pembangkitan minat belajar pada anak, ada yang bersifat sementara, dan ada juga yang bersifat menetap. 
D.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Menurut Slameto suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. [34]
Belajar sebagai proses atau aktivitas yang disyaratkan oleh banyak sekali hal-hal atau faktor-faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar itu adalah banyak untuk disebutkan satu persatu. Untuk memudahkan pembicaraan dalam pembahasan ini maka dilakukan klasifikasi seperti yang di rangkai dalam bagan berikut ini:
  1. Faktor yang ada pada organisme itu sendiri yang disebut faktor yang berasal daridalam diri siswa yang dapat di golongkan menjadi dua golongan yaitu:
a.       Faktor-faktor fisiologis,
Faktor fisiologis memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar. Seorang anak yang mengalami gangguan psiologis dalam belajarnya bukan tidak mungkin gangguan tersebut akan mempengaruhi fisik yang pada gilirannya akan mempengaruhi hasil belajar anak. 
Keadaan tonus jasmani pada umumnya dapat dikatakan ynag melatarbelakangi aktivitas belajar, keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang lelah lain pengaruhnya yang tidak lelah. Dalam hubungannya ada beberapa hal yang perlu dikemukakan yaitu: Nutrisi harus cukup, beberapa penyakit yang sangat kronis sangat menggangu belajar, Keadaan Fungsi-Fungsi Jasmani tertentu terutama fungsi panca indra [35] 
Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indra pendengaran dan indra penglihatan juga sangat mempengaruhi siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan khususnya yang disajikan di kelas.[36]
b.      Faktor-faktor psikologis
Faktor-faktor psikologis dalam belajar merupakan hal yang mendorong aktivitas belajar hal yang merupakan alasan untuk apa dilakukan belajar itu. Arden N. Frandsen mengatakan bahwa hal yang me ndorong seseorang untuk belajar adalah: Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas, Adanya sifat yang kreatif yang pada keinginannya untuk selalu maju, Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru, dan teman-teman, Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru dan Adanya keinginan untuk merasa aman bila menguasai pelajaran.[37]
Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas perolehan pembelajaran siswa namun, diantara faktor-faktor rohanian siswa yang pada umumnya di pandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:
1)      Inteligensi siswa
Inteligensi siwa pada umumnya dapat diartikan sebagai kemapuan psiko-fisik untuk mereaksi ransangan atau penyesuaian diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat.[38] Inteligensi anak merupakan potensi bawaan yang sering dikaitkan dengan berhasil tidaknya anak belajar di sekolah. Dengan kata lain, iteligensi dianggap sebagi faktor yang menentukan berhasil tidaknya anak di sekolah pernyataan ini seperti yang di kutip oleh Slameto {1991:130}. Pengaruh belajar dalam arti lingkungan terhadap perkembangan iteligensi cukup besar. Ada beberapa unsur penting dalam keluarga yang amat berpengaruh terhadap perkembangan iteligensi anak yaitu: jumlah buku, majalah, dan materi belajar lain yang terdapat dalam lingkungan keluarga dan jumlah ganjaran, pengakuan yang diterima anak dari orang tua atas prestasi akademiknya. Serta harapan orang tua akan prestasi akademik anaknya.[39] .
2)      Bakat siswa
Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa ynag akan datang, dengan demikian sebetulnya setiap orang mempunyai bakat dalam arti berpotensi untuk mendapat prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Dan dalam perkembangan bakat diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.
Bakat dapat mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Oleh karenanya hal ynag bijaksana apabila orang tua memaksakan kehendaknya untuk menyekolahkan anaknya pada jurusan keahlian tertentu tanpa mengetahui terlebih dahulu bakat yang dimiliki anaknya tersebut.[40]
3)      Motivasi Siswa
Menurut M. Utsman Najati motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup, dan menimbulkan tingkah laku serta mengarahkannya menuju tujuan tertentu. [41] Motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
4)      Minat siswa
Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan minta pada suatu subjek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat anak didik yang telah ada. Misalnya ada beberapa anak didik menaruh minat pada olah raga balap mobil. [42]

2.      Faktor yang ada di luar siswa yang disebut sosial  yang dapat di golongkan menjadi dua golongan yaitu:
a.       Faktor Lingkungan
1)      Faktor-faktor Sosial
Faktor lingkungan sosial merupakan bagian dari kehidupan anak didik. Dalam lingkunganlah anak didik hidup dan berinteraksi dalam mata rantai kehidupan yang disebut ekosistem. Selama hidupnya anak didik tidak bisa menghindarkan diri dari lingkungan alami dan lingkungan sosial budaya, keduanya mempunyai pengaruh cukup signifikan dirumah dan disekolah.
Faktor-faktor sosial ini adalah faktor manusia sesama manusia, baik manusia itu ada (hadir)maupun kehadirannya itu dapat di simpulkan, jadi tidak langsung hadir. Kehadiran orang atau orang lain pada waktu seseorang sedang belajar dapat mengganggu orang yang sedang belajar. Selanjutnya yang termasuk lingkungan sosial siswa adalah masyarakat dan tetangga juga teman-teman disekitar perkampungan dan sekolah siswa. Lingkungan sosial lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga itu sendiri, sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi keluarga semuanya dapat memberikan dampak baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.[43]

2)      Faktor-faktor nonsosial
Kelompok faktor-faktor ini boleh dikatakan juga tak terbilang jumlahnya, seperti: keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu pagi, siang, ataupun malam, tempat (etaknya pergedungan) alat-alat yang dipakai untuk belajar.[44]
b. Intrumental
Setiap sekolah mempunyai tujuan yang akan dicapai. Tujuan tentu saja pada kelembagaan. Kurikulum dapat dipakai oleh guru dalam merencanakan program pengajaran yang dijadikan sebagai acuan dalam meningkatkan kualitas belajar mengajar sarana dan fasilitas yang tersedia harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya agar berdaya guan dan berhasil guna bagi kemajuan belajar anak didik. 














[1] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya Jakarta: Bina Aksara 1988)/ http:// Guru Profesional. Wordpress.com/200901/09/ki-karya-ilmiah-guru-SMA/ 20/03/2009 hal 1
[2]   Soemarti Patmonodewo  Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta 2007 hal. 123
[3] Syaiful bahri Djamarah, Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta 2008 hal.191

[4] Crow and Crow Psikologi Pendidikan vol 1 Surabaya: Bina Ilmu 1984 http://zanikhan.multiply.com/journal/item/1206  diakses 20 Maret 2009 hal 1
[5]  Novianti, Hubungan Antara Minat Belajar dengan Sikap Terhadap Pekerjaan Rumah Pada Siswa Kelas V Sdn Jember, 2003 http:// guru Profesional. Wordpress.com/200901/09/ki-karya-ilmiah-guru-SMA di akses  20 Maret2009 hal 3

[6] Moh. Nasir, Metode Penelitian, Cet. I Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985, hal. 182
[7] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Rineka Cipta, 1999 hal.115

[8]  Yatim Riyanto,Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif dan Kuantitati,Surabaya: Unesa University Press, 2007 hal.15
[9] Yatim Rianto, Metodologi.…,  hal.16
[10] Lexy J.Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007 hal. 35

[11] Lexy J.Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007 hal. 36


[12] Burhan Bungin,Analisis Data Penelitian Kualitatif, Jakarta:Raja Grafindo Persada,2003 hal. 95
[13] Yatim Rianto, Metodologi.…,  hal. 21

[14] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada 1993 hal. 14

[15] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, Yokyakarta: Andi Offeset, 1990 hal. 56
[16] M. Dalyono Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta 2007 hal.170
[18] Crow and Crow Psikologi Pendidikan vol 1 Surabaya: Bina Ilmu 1984 http://zanikhan.multiply.com/journal/item/1206  diakses 20 Maret 2009 hal 1

[19] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar Jakarta: Rineka Cipta 2008 hal. 191

[20] Ibid.,

[21] Abdul Rahman Saleh, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perpektif Islam Jakarta : Kencana Media Grup 2008 hal.207
[22] Soelaiman Joesoef, Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah Jakarta: Bumi Aksara 2008 hal. 74
[23] Fauzi Saleh, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Banda Aceh: Pena 2005 Hal.4

[24] Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta 2008 Hal. 64
[25] Tom And Harriet Sobol, Rancang Bangun Anak Cerdas, Jakarta: 2003 hal. 2003
[26] Utami Munandar, Pengembangan Kretivitas Anak Berbakat  Jakarta: Rineka Cipta  1999

[27] Oemar hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar Bandung: Sinar Baru Algensindo 2002 hal 193

[28] Fauzi Saleh, Konsep….,  hal.24

[29] M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teori dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1987 Cet.3 Hal. 236
[30] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Jakarta: Kalam Mulia 2008 Hal. 80
[31] Tom And Harriet Sobol, Rancang ….,  hal. 196
[32] M. Dalyono Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta 2007 hal.170

[33] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004

[34] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi…., hal. 12

[35] Sumadi Suryabrata, Psikologi ….,  hal.236

[36] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru Bandung: Remaja Rosadakarya 2004 hal. 132

[37] Sumadi Suryabrata, Psikologi ….,  hal.237

[38] Muhibbin Syah, Psikologi ….,  hal. 134
                                                                                                                                        
[39] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi ….,  hal 137

[40] Muhibbin Syah, Psikologi ….,  hal. 136

[41] Abdul Rahman Saleh, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perpektif Islam Jakarta : Kencana Media Grup 2008 hal.183

[42] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi ….,  hal 193

[43] Muhibbin Syah, Psikologi ….,  hal. 138

[44] Sumadi Suryabrata, Psikologi …., hal.233